Showing posts with label Kampung Kata. Show all posts
Showing posts with label Kampung Kata. Show all posts

February 09, 2017

Semoga Semogaku Segera Disegerakan.

Salam hangat dari Makati.

Di luar panas sekali, dan dalam waktu dua jam lagi saya harus memasuki jalanan sibuk di area Burgos menuju ke kantor. Sudah berapa lama saya meninggalkan barisan label-label di blog ini?
Padahal di tulisan terakhir saya bertekad untuk sering dan rajin posting tulisan. Minat menulisku semakin turun drastis sejak di Filipina. Entah karena terlalu santai rutinintasnya jadi seperti tak ada bahan untuk kuolah dan disajikan di sini. Entah karena terlalu banyak yang terpikirkan bahkan sampai memekik di batok kepala saya. Ya, benar-benar pengang jika ia bisa mengeluarkan suara.

Manusia penuh masalah. Ya, mungkin memang saya perempuan yang memiliki sekian banyak perihal yang sudah terlewati dan sedang dilalui, bahkan mungkin masih banyak lagi hal-hal lain yang menunggu lalu menyusul seiring hal-hal lain terlewatkan nanti.

Jangan pernah membandingkan perihal hidupmu dengan orang lain. Jejak yang kau buat tentu berbeda dengan orang lain di luar sana. Jangan bandingkan pula rumput di halamanmu dengan rumput tetangga. Ya, beberapa petuah yang menasihati itu selalu kepatuhi. Saya tidak pernah merasa rugi diberikan banyak sekali hal untuk diperjuangkan, ditangisi dan diselesaikan hingga tuntas. Family, pendidikan, pertemanan, asmara, karir, semua. Segalanya ada titik masalah masing-masing yang lantas dilalui. Tapi percayalah dari sekian banyak hal yang memusingkan kepalamu, entah berapa persen kalian akan setuju dengan pemikiranku bahwa asmara tidak akan tergeser kedudukan memusingkannya jika disandingkan dengan hal lainnya.

Keluarga adalah hal utama dan sangat berharga tentu. Tapi saya yakin, setiap di antara kita masih bisa dengan semangat untuk bisa mengarungi apapun yang terjadi di tengah istana rumah kita. 2013 lalu menjadi tahun yang tidak akan terlupakan bagi saya. Segera lulus kuliah di salah satu universitas di Ibukota, saya dengan semua kesanggupan saya berjuang mempersatukan ibu-bapak saya. Apa dikata, seakan semua sia-sia, trip keluar kota dan pembicaraan keluarga yang intens tidak membuahkan hasil. Justru perceraian kedua orangtuaku semakin tersegerakan saat itu. Dan apa yang menjadi background itu semua, karena asmara pada keduanya sudah tidak sama dan semakin tidak terasa bahkan tak biasa untuk dijalankan. Ya, asmara-lah yang melatarbelakangi semua kesepakatan berpisahnya ibu-bapak saya.

Seakan menjadi titik nadir, tahun itu saya benar-benar terpuruk sekali. Tidak menerima kenyataan yang terjadi, bahkan mungkin hingga hari ini saya belum iklas sepenuhnya. Terlebih dengan adanya pernihakan kedua dari ibu saya dengan lelaki yang justru tidak sama sekali saya dan keluarga saya setujui. Tapi sekali lagi, karena bukan urusan asmara secara langsung bagi saya, semuanya berjalan maju meski pelan sekali terasa. Walau rasanya ingin segera banyak waktu terlewati agar bisa melupakan (paling tidak) hal menyebalkan itu, tapi tetap saja waktu berperan tidak cukup menyenangkan. Tapi, saya bersyukur karena saya entah mengapa selalu berpikir, menderita itu mengasyikan. Berada pada situasi dan kondisi yang rendah sekaligus tinggi seperti di ujung pegunungan dengan tebing-tebing dan bukit-bukit yang curam, saya menikmati seluruh sensasi keridakberdayaan yang mendesak untuk terus bertahan. Dan saya selalu berhasil. Bolehlah saya berbangga diri, toh! :)

Mungkin, 2013 bisa saya katakan sebagai tahun kedua dari titik nadir saya. Karena sebelumnya, jika kalian perhatikan 2010 adalah tahun pertama untuk sebuah kejatuhan dalam hidup saya. Gampang-gampang susah saya bangkit. Mungkin lama. Lama sekali. Hm, pada saat itu saya harus menerima kenyataan bahwa saya dan mantan pertama saya harus berpisah dengan banyak alasan yang melatarbelakangi keputusan itu. Tapi yang menjadi hal baiknya adalah saya benar-benar menjadi perempuan yang tumbuh dan memahami setiap apa yang harus dipikirkan, dilakukan, disyukuri dan lain sebagainya. Sayangnya ketika saya mulai percaya kembali pada lelaki, sialnya ditahun yang sama dengan peristiwa perceraian orangtua waktu itu, saya harus lagi-lagi mengiklaskan sebuah hubungan yang saya yakini akan berujung rumah tangga, sekalipun tidak segera diwujudkan.

Percaya atau tidak, hingga saat ini saya seperti manusia yang berada di tengah-tengah. Antara percaya penuh akan kebaikan yang disediakan oleh Yang Maha untk kehidupan saya nantinya, entah di dunia entah di akhirat. Sebaliknya, ada banyak prasangka yang selalu hadir di pemikiran-pemikiran saya. Seperti tanpa iman, bahkan saya kerap mempertanyakan kebijaksanaan Pencipta, menggugat janji-janji yang haus akan wujud kabul-Nya. Murka sepanas-panasnya dan lemah pada batin. Selalu berpikir, apakah saya gila hingga berpikir dan bertingkah demikian. Jawab mereka di luar sana, teman-sejawat dan beberapa psikolog hal itu normal. Justru saya cukup bahkan sangat kuat untuk sudah dan selalu mampu menyemangati diri. Keterpurukan diri itu perlu bagiku, untuk melihat dan merasa bahwa kita masih manusia, sesosok mahkluk kecil dan hanya alam juga Pencipta Yang Sempurna.

Dan hari ini, saya kembali tidak bisa mengeluarkan semua yang ada dalam benak dan hati. Hanya dengan mengetik huruf demi huruf untuk sedikit melihat dan mencari kebijaksanaan dalam diri.

Seperti melihat dua waktu ketika sangat terjatuh, kali ini rasa yang muncul ke permukaan terasa persis sekali. Segala perjuangan dan kerendahan hati untuk berharap ada keajaiban yang mampu menyelamatkan hati penuh kekecewaan. Tepat 161 hari lalu saya diperkenalkan dengan waktu pada seorang lelaki. Singkat cerita, kami sepakat Januari silam kami akan menikah. Namun dengan banyak kendala dan hal yang sulit dipenuhi sebelum dan sesudah pernikahan, kami rearrange kembali menjadi April depan. Terhitung tujuh puluh hari lagi menuju hari yang didambakan. Saya akan menjadi seorang istri dari seorang pemuda yang saar ini usianya dua tahun di bawah saya.

Ya, semua persiapan sudah hampir rapi. Cukup menunggu kepulangan saya dari Manila ke Singkawang seminggu sebelum hari H. Dan rencana kami, nanti setelah menikah akan melanjutkan tinggal di Makati beberapa bulan atau paling lama setahun. Karena sejujurnya saya sudah sangat tidak betah berada di kota tak bersahabat lingkungannya ini, tambahan saat ini saya sedang dalam status tinggal dengan sharing room bersama seorang teman. Percayalah, saya haus privasi. :( Namun, demi menabung dan berhemat, saya bertahan menjalani hidup seperti ini.

Ya, semua persiapan benar-benar hampir rapi, tinggal menunggu kedatangan kami ke rumah ibuku di Singkawang untuk menyelesaikan perihal administrasi. Lalu bersiap lelah dipajang di hari pernikahan. Sepertinya tidak ada kendala berarti, bukan?

Secara teknis, ya. Semua lancar. Hanya perlu menebalkan rekening bank saja karena saya berinisiatif ingin mengajak calon suami liburan ke Semarang juga Yogyakarta seperti keinginannya yang pernah sekali ia lontarkan. Entahlah, bagiku, calon suamiku ini raja. Segala kebaikan untuknya selalu saya usahakan yang terbaik tanpa kekurangan. Mengingat background kehidupannya yang kurang beruntung seperti orang kebanyakan, saya selalu iklas untuk memberikan apa yang ia butuhkan. Tidak ada ruginya bagiku. Toh, ia akan jadi imamku nanti. Bukan hal aneh dan salah rasanya membantunya. Kali ini rejeki kami diberikan melaluiku, tidak menutup kemungkinan esok ia yang diberkahi rejeki. Itu yang selalu kutanamkan demi iklas menolongnya dalam segala kondisi. Bersyukur pekerjaanku di Filipina mampu mencukupi kebutuhan kami berdua bahkan untuk pernikahan kami nanti. Dan sekali lagi, aku iklas dan senang bahkan terlalu excited!

Sekian tahun, sohib, sejawat juga keluargaku sangat tau persis, saya enggan menikah. Terlalu banyak alasan untuk saya berkeras tidak akan menikah namun berencana mengadopsi anak. Kecewa mereka terhapus dengan keinginan yang sebentar lagi terwujud. Semua sadar betul, pastilah tidak mudah bagi saya untuk memutuskan menikah terlebih dengan lelaki yang hanya ditemui dua kali dan masa kenal yang tidak panjang dan lama.

Tapi detik ini, di pukul 12.42 waktu setempat Makati. Hati yang hangat saya rasakan mulai membeku. Bahkan mungkin panasnya distrik bisnis di luar apartemenku ini tidak akan sanggup menghangatkan segala yang kaku.

Dalam sekian bulan yang singkat sejak kami memutuskan menikah justru debat yang berujung pertengkaran semakin menjadi dan kerap berkahir buruk. Sudah sekian kali saya memutuskan untuk berpisah, perihal prinsip sangat berpengaruh di hubungan ini. Tapi hingga hari ini, untuk pertama kalinya saya tanpa sadar mencari-cari rute perjalanan menuju Eropa untuk melakukan single backpacker trip.

Lantasan terlalu sulit rasanya menerima kenyataan bahwa ternyata berkomunikasi dengan saya justru membuat pasangan saya tambah terbebani dan menimbulkan efek stresful. Dan masih banyak hal lainnya yang membuat saya berpikir, hubungan kami sebaiknya selesai saja, dan pernikahan, ah..cukup jadi angan-angan yang pantas dikubur saja.

Mungkin kalian masih meraba-raba titik problematikanya, tapi biarlah ini hanya menjadi film di benak saya.
Hingga kemarin, saya dengan tegas bicara pada ibu saya, saya ingin mencukupkan saja hubungan dengan pasangan. Tapi, jika ia memang masih mau perjuangkan semua yang sebelumnya sudah saya perjuangkan sejauh ini hingga batas awal bulan depan, saya akan mempertimbangkan untuk bersabar dan bertahan. Dua hal itu yang selalu ia ajarkan pada saya yang terkenal temperamen dan tidak sabaran.

Saya hanya sedang menunggu waktu. Apakah kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama dalam sebuah pernikahan dan lantas berpisah lalu sibuk dengan rencana hidup masing-masing? Ataukah saya lantas mempertimbangkannya untuk terkahir kalinya sebagai pasangan yang akan membawa saya ke pernikahan yang saya dambakan dan membangun rumahtangga laiknya pasangan lain yang sukses dalam asmaranya? Terlebih saya sudah terlalu banyak menghayal perihal menjadi ratu sehari di hari bersejarah pada saat pernikahan, lalu menjadi istri yang merindukan kepulangan suami di rumah kami, juga mendamba momongan yang calon suamiku sempat mengiming-imingi saya berkesempatan memperoleh bayi kembar, bahkan berhayal akan bercinta di banyak negara yang sudah ter-list dengan rapi di catatan saya dan melalui hari-hari penuh hangat dan mesra. Ah, indah rasanya, bukan. Namun, sayang sekali saat ini saya bersiap mem-booking penerbangan untuk diri saya sendiri. Ya, lagi-lagi pasti kalian merasa aneh mengapa saya bersikap demikian. Saya hanya bisa menanggapi bahwa saya manusia yang tidak ingin melulu kalah oleh perasaan, dan logika juga justru hal terdalam adalah perasaan saya ingin bahagia, sekalipun tanpa menikah.

Jadi, gambling yang saya alami saat ini sungguh sudah sangat biasa. Ini penting, dan masa depan saya penting. Jadi hasil gundah hingga awal bulan depan semoga terjawab lekas. Karena lagi-lagi, saya bukan manusia yang penuh kesabaran.

Semoga semogaku segera disegerakan.

Tabik.


February 22, 2016

Kontemplasi (?)

Selamat malam menuju pagi.

Di sini, di Makati yang menggunakan hitungan waktu GMT +8, aku sedang menunggu ada yang menyapa dan atau harus kusapa sebagai sambutan hangat pada siapapun yang datang.

Dua layar komputer dengan satu otak dari prosesor aku menyapa mereka yang datang. Beberapa perangkat aplikasi kuoperasikan untuk sebagai pencarian data mereka yang kusapa, di jendela "chat".

Dan percayalah, semua aplikasi itu menjemukan dan terkadang mampu membuatku emosi. Sebenarnya bukan aplikasi-aplikasi itu tapi mereka yang datang ke "chat", menyebalkan! Minta ini, minta itu. Semua harus kuturuti, karena aku dibayar untuk disuruh-suruh. Tak jarang terima makian yang juga menumbuhkan rasa ingin membanting dua layar tak bernyawa itu.

Tapi malam ini, pagi ini, "chat" atau "player" -- begitu biasa kami menyebutnya, sedang sepi. Ah baru saja kubilang sepi, sekarang masuk chat. Hold, aku harus menyapa mereka dan menyelesaikan concern mereka. Wait po!

Hai, aku kembali. Ternyata player yang baru saja kusapa langsung pergi meninggalkan jendela chat. Ya, kembali kukatakan, chat. Chat adalah sebutan untuk obrolan yang fokusnya pada hal-hal akun, bonus, promosi, dan yah semuanya. Di sini, di perusahaan yang karyawannya lebih dari seribu mungkin (maaf, aku bukan karyawan yang terlalu peduli dengan hal profil perusahaannya--hm, mungkin karena ini tidak perusahaan yang kecil), aku bekerja bersama kurang lebih dua puluhan orang Indonesia lainnya. Oh ya, Makati adalah kota kecil yang cukup maju dan potensial walau tidak dipotensialkan pemerintahnya yang terletak di Manila, Filipina. Melayani player untuk kurang lebih delapan jam sehari dalam lima hari per minggu. Player, hm mereka adalah konsumen kami. Perusahaan dimana aku bekerja ini sangat sensiif dengan nominal uang dan semua yang berkaitan dengan kerahasiaan data.

Awalnya aku senang menjadi karyawan di sini. Sangat senang bahkan. Mereka--teman kerjaku semua menyenangkan. Bahkan seminggu aku datang ke floor -sebutan untuk mulai bekerja di stasion, aku sudah terpikat dengan seorang teman kerja. Ah, jangan menilaiku buruk, terkadang dia menyenangkan terkadang dia menyebalkan, itu sisi menariknya. Dan, saat ini aku bukan ingin bercerita tentang lelaki itu.

Awalnya aku senang menjadi karyawan di sini. Betapa tidak, upah kudapat jauh lebih tinggi daripada bekerja di negaraku sendiri. Dengan, padahal ini hanya kerja yang mengandalkan kebiasaan dan keaktifan belajar saja. No big deal, yes? Dan si sini, aku sangat senang. Banyak lebih dari hal luar biasa yang bisa kumakan untuk kucerna sebagai pembelajaran. Dari hal agama dan segala toleransi di dalam dan di luarnya. Lalu soal budaya juga makanan yang terkadang menjemukan perut. Kemudian soal persekawanan yang tentu tidak akan menjemukan. Dan, soal aktifitas menari pula berenang yang nyaris sebelas tahun tak kulakukan lalu kulakoni lagi dengan suka duka di dalamnya, di sini. Dan percayalah, soal asmara tidak luput dari hal yang kutelan habis.

Awalnya aku senang menjadi karyawan di sini. Betapa tidak, terkadang aku menjelma bagai seorang ibu seorang mama yang sibuk memasakkan anak-anaknya makanan lezat. Aku juga sering menjelma menjadi anak nakal yang sulit sekali dikalahkan egonya. Aku juga sering menjelma menjadi saudara bahkan teman tidur yang selalu dinanti untuk menemani yang sedang terundung sulitnya hidup. Ah, awalnya aku senang!

Hingga pada suatu malam aku tidak dikagetkan tapi cukup menggelitik naluriku yang di dalam sana. Seorang temanku terpaksa pulang karena orang tuanya yang terpaksa dirawat karena sakit keras. Sering aku terbawa diam ketika memikirkan kebahagiaan orang tuaku. Apakah keberadaan jauhku kini yang demi membahagiakan mereka juga membahagiakan bagi mereka. Apakah modal berhubungan dengan aplikasi whats app dan line juga BBM sudah membahagiakan mereka? Apakah aku anak yang begitu sulitnya menahan segala ambisi untuk kebahagiaan orang tuanya? Yang tentu, aku tidak sendiri untuk sikap yang demikian. Tapi dengan tegas kukatakan, itu tidak akan kujadikan pembelaan atas sepeninggalanku di Makati kini. Yang kutahu, aku menjemput masa depanku yaitu kebahagiaan orang tuaku. Iya, aku tahu jika pastinya orang tua lebih akan bahagia jika anaknya dekat secara fisik dengannya. Tapi ini 2016, jangan bicara yang masuk akal tapi tidak realistis. Jika kau bertentangan denganku, bukan urusanku. Yang tentu, yang menguatkan ibu, bapak, abang, juga diriku untuk melewati semua ini adalah tujuan yang harus kuraih. Ah, aku rindu ibu bapakku yang pasti sedang tidur saat ini. Baik-baiklah di sana ibu juga bapak. ๐Ÿ˜˜

Hingga pada suatu malam aku tidak dikagetkan tapi cukup menggelitik naluriku yang di dalam sana. Seorang temanku terpaksa mengundurkan diri. Inisiatifnya sungguh kuat dan tekadnya bulat. Lalu mengapa kukatakan terpaksa? Hm, si perempuan brisik-begitu wataknya bagiku, memaksa dan terpaksa menyerah di sini. Dan memutuskan untuk melanjutkan karirnya di Malaysia-jika Pencipta mengijinkan.
 "..kalau pisah nanti kita nggak ketemu dong, babe?" katanya dengan raut sedih.
 "Jangan lebay, Malaysia atau Filipina bukab di planet lain. Rumah lu masih di Kalimantan, passport lu juga masih Indonesia." Jawabku sedikit membentak, maksud menguatkan. Membentak biasa kulakukan untuk teman yang sering memperlihatkan pesimisnya, lemahnya mereka. Aku tidak suka.
 "Ah, lu kan janji aja, entar mah kaga ditepatin." Katanya selayak menggugatku.
 "Heh, emang gua janji apa?"
 "Tetap ketemuan kan!!?" Ucapnya sambil mendelik dan mengerucutkan bibirnya. Lucu! Ganjen! Centil! Gemas! ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜˜
 "Gua gak pernah janji, gw bilang insyaAlloh, percayakan aja sama Pencipta. Udah jangan lebay!" jawabku berujung tawa meledek.
 "Ah lu mah gitu, jahat!" Mulutnya semakin manyun ke depan mengalahkan aku yang jelas lebih manyun dari sononya. ๐Ÿ˜
 "Yang jahat itu lu, yang pergi siapa, yang ninggali siapa, yang dibilang jahat malah saya! Hih!" Tawaku makin kencang. Disusul dia yang akhirnya juga tertawa. "Lu datang ke sini nggak ada gua, kenapa cabut jadi musti ada gua? Slowlah, semua akan fine-fine aja tanpa gua, kok. Lu kan hebat! Jangan tempe! Lagipula, kalau jauh emang kita langsung nggak temenan gitu? Hih, gampar juga nih lama-lama. Inget niat dan motivasi awal lu apa sampai berani langkah sejauh ini? Ingat kan," kataku panjang mengomelinya bak adik kecil yang bandel dinasehati. Hahaha, lucu sekali ini perempuan gendut berisik.
Aku tahu betul apa yang ia rasa dan ia maksud, hanya saja siapapun yang berlakon lemah, harus kukuatkan sekuat-kuatnya, dan caraku menguatkan orang lemah yang rada brisik itu ya begitu. ๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜  Hm, tidak suka, hakmu.

Hingga pada suatu malam aku tidak dikagetkan tapi cukup menggelitik naluriku yang di dalam sana. Paling tidak apa yang kukatakan, kutindakkan pada manusia lain entah siapapun itu, adalah suatu yang kuanut selama ini. Karena pada dasarnya, mereka--manusia yang lain adalah aku dalam bentuk jiwa dan raga yang berbeda. Itu mengapa kuperlakukan sama dalam sebagian besar hal. Kalian, mereka, dia, kau, aku, sama dalam kondrat yang dinamakan insan bumi. Bagaimana kuperlakukan aku begitu kuperlakukan kau, dia, mereka, juga kalian. Walau beda adalah kita. Jadi kawan, jika kau merindukan saat di mana kita menggila, begitu pula aku. Oh ya, tampak beda perlakuan itu kutampik karena ekspresi beda manusia beda pula ekspresinya. Untuk hal itu aku tak mau disamakan, pasti berkeras berbeda. ๐Ÿ˜  Jadi kawan, jika kau merindukan saat kita ada dan tidak ada satu untuk yang lain, begitu pula aku. Jangan pernah kau lupa. Kecuali kau mengidap alzheimer. Selalulah jadi kawanku. Sampai aku tak jadi manusia lagi. Mungkin, bila nanti ada teknologi yang membuat manusia yang sudah tidak dapat disebut sebagai manusia tapi tetap seperti manusia atau apalah yang tampak manusiawi, silakan mengingatku, terus ingat sampai kau lupa. Atau aku yang lupa.



05:43 AM, Makati, February 23th 2016.

February 18, 2016

Dia yang Seperti Dilannya Pidi Baiq.

Hari ini selesai aku baca buku Dilan-nya Pidi Baiq.
Penulis yang jujur. Paling tidak itu yang kupikirkan setelah dua kali membacanya, di Jakarta juga di Manila. Itu kulakukan karena awalnya aku lebih dahulu membaca buku kedua, baru buku pertamanya. Dan kali ini aku memulai dengan sebaliknya.

Milea beruntung sekali pernah merasa sangat menjadi perempuan teristimewa, walau sebentar. Hanya hitungan tak lebih setahun. Yah. Paling tidak ia tahu, pernah ada lelaki yang begitu tinggi cita rasanya pula cinta rasanya untuknya. Ada pernah kudengar, itu kisah nyata. Tapi tak kucari pembenaran itu. Tak penting. Yang kutahu, cerita dan seluruh perwatakan tokohnya nyata. Dan membius. Tidak mematikan. Gelora masa remaja yang tidak akan pernah menjemukan, bagi yang merasakan. Kuyakin kalian setuju jika kalian pernah membacanya. Bagaimana tidak, kisah pemuda berseragam mana yang bisa menyerupai jalan cerita mereka--Dilan juga Milea?

Mungkin ada Ratna dan Galih, itu pun cuma romansa, tidak lebih. Mungkin karena tidak dieksplor detilnya, mungkin. Dan dikenal juga diingat karena abadi lewat lagu yang ditembangkan penyanyi legenda Indonesia, Chrisye.

Atau Cinta dan Rangga, hm, mereka menarik, tapi aku lebih suka Dilan. Ya, Rangga keren dengan segala tingkahnya. Penyair yang karismatik, mata yang tajam, otak yang penuh dengan segala pemahamannya dari buku-buku yang dibacanya, teguh pendirian, dan caranya menjatuhkan hati Cinta hingga dalam entah ke mana pun--tidak biasa dan jitu. Rangga, pemuda SMA yang tak biasa dan menarik. Kau tahu kenapa kugunakan kata menarik? Sebab menarik petanda tak akan menjemukan. Dan ya, sekarang akan ada versi kisah barunya. Tim produksi film-aku lupa nama rumah produksinya- sedang sibuk menyelesaikan film versi lanjutannya, Ada Apa Dengan Cinta. Semoga tak berbeda judul (karena sejauh yang kutahu mereka hanya menambahkan angka 2 pada judul versi pertama). Dan pasti, bukan aku sendiri yang berharap kisah selanjutnya nanti akan lebih berkesan. Ya, paling tidak harus sekeren versi pertama. Kutunggu.

Tapi menarik, ya kata menarik untuk itu film. Tapi, ah, Dilannya Pidi Baiq lebih menarik. Dan, ah, Dilannya Pidi Baiq ini bingung juga aku mau berekspresi. Menggemaskan dan menghanyutkan! Mungkin kalian bisa bilang aku berlebihan. Terserah. Kita punya pandangan berbeda karena manusia harus berbeda, dan berbeda itu baik juga keren, toh?! ;-)

Dan ya, Dilannya Pidi Baiq ini menggemaskan dan menghanyutkan! Pidi Baiq, semoga aku tidak akan bertemu lagi dengan lelaki seperti Dilan!

Ya, lagi. Jelas bukan persis di dalam kedua bukunya. Berbeda tentu. Tapi ya aku seakan Milea, yang jatuh sedalam-dalamnya hingga ke dasar. Bukan di sekolah, dan tidak semenarik pertemuan Dilan juga Milea di jalan Milea di Bandung. Tak selama dan tak setragis akhir kisah Milea juga Dilan yang ada di dalam kedua buku itu.

Aku mungkin tidak melewati waktu juga posisi yang sama dengan Milea. Lebih sederhana, namun rumit pada hubungannya. Dan hubungan yang rumit itu biasa. Lumrah. Wajar. Wajar karena sudah berkali-kali kualami. Senang rasanya bisa mengalami semua itu. Remajaku-hidupku hidup. Walau sekarang aku juga tidak yakin penuh aku hidup untuk hidup. Untuk menjadi manusia yang dimanusiakan. Tapi biarlah, belum masanya aku mati, aku hanya belajar untuk hidup untuk mati. Toh semua manusia juga begitu, 'kan ? Jika tidak, biarlah, bukan urusanku.

Mungkin bisa dikata saat itu aku bukan lagi remaja, lebih tepatnya transisi menjadi manusia dewas--walau aku tak pernah setuju bahwa dewasa itu ada, hanya istilah untuk manusia yang di atas usia 17 atau 18 untuk di luar negeri. Sikap, pemikiran, kebiasaan dapat terlakukan dengan sewajarnya. Maka dari itu, aku tak pernah menuntut seseorang untuk bersikap demikian (dewasa). Sebab bagiku, manusia-normal, bersikap dan berpikirlah sesuai usianya saja. Lebih atau aneh, silakan, itu seru dan tidak buruk. Karena, lagi, buruk pula baik hanya istilah dibuat oleh kita, manusia. Iya, tidak? Jika tidak, tak apa. Bukan urusanku.

Ah, Dilannya Pidi Baiq ini benar-benar menggemaskan dan menghanyutkan. Tidak jarang aku terhempas ketika membacanya. Sederhana sekali sehingga kau tidak terhambat menyelam untuk lebih merasakan cerita juga plot-plot di dalamnya. Menyebalkan!
Milea, siapapun kau, berterima-kasihlah dan terima kasih kuucapkan. Pada dia si Dilan yang kasihnya kau teguk dalam. Pada Pidi Baiq yang mewakilimu untuk bersuara tanpa bunyi. Yang sehingga, mungkin saat ini sudah dan semakin banyak wanita akan lebih bijaksana dalam menjadi diri sebagai seorang perempuan.

Dan kau Dilannya Pidi Baiq, terima kasih pernah ada untuk Milea dan selalulah keren. Entah kalian hanya penokohan, entah nyatanya kalian hidup, ini meyakinkanku bahwa adanya kalian itu adalah Pencipta yang keren sekali. Entah Pidi Baiq, entah Pencipta, tak kuambil pusing. Yang tentu, kalian menggemaskan dan menghanyutkan!

Karena itu aku, malam ini di rumah temanku yang sedang kujaga karena sedang sakit, duduk menulis semua ini agar sedikit tersalurkan rasa gemas yang menghanyutkanku pada lelaki yang ah, jiwanya persis seperti Dilan. Kelahiran Bogor dan keberadaannya entah di mana kini jelas aku tak tahu. Dan aku butuh tahu, jujur saja. Sempat kupikir, apakah lelaki sunda selalu menyebalkan seperti Dilan, Pidi Baiq? Kalian selalu menggiurkan berkat segala yang kalian punya. Tolong untuk tidak berpikir negatif dengan diksi yang kugunakan. Tapi kalau demikian, terserah. Tak soal buatku.

Dia yang seperti Dilan, hanya sebentar mampir di hidupku yang kemarin. Tidak lama, tidak membosankan. Jujur, aku mau lagi. Ketagihan. Aku butuh. Juga rindu. Sangat dalam.
Beruntung sekali kau Milea, bisa "move on" dan melaju. Aku iri. Dan di sofa tempat aku duduk kini, menghadap ke lautan entah apa namanya- apartemen temanku di lantai dua puluh lima, wajar aku bisa melihat laut- kurasakan sepi yang entah kapan ujungnya aku temui.

Dia yang seperti Dilan, seperti belum terselesaikan saja. Dan ah, biar menjadi kenangan. Biarlah belum bisa "move on", tak apa, belum waktuku. Biarlah  aku bebas merindukan dia yang seperti Dilan.

Dan, kau yang seperti Dilan, baik-baiklah di sana. Jangan larang aku merindukanmu. Jangan larang aku mendoakanmu.
Terimalah kasihku.
Terima kasih. :'( :-)

Makati, Friday, 19 February 2016.

Catatan: tulisan ini bukan "review" dari buku Pidi Baiq, percayalah ini hanya racauan saya semata setelah menghabiskan buku beliau tentang Milea dan Dilan benar-benar menggemaskan dan menghanyutkan! Jangan ikit meracau jika kau tak suka tulisanku. ๐Ÿ˜

October 10, 2013

Biru. (Bertapa di Kapuas)

“Netralisir rasa itu melelahkan. Sebelum jauh, lebih baik tidak sama sekali. Gue nggak niat main-main dan harusnya lu tahu posisi lu…”

SATU BULAN KEMUDIAN

Kuperhatikan lekat mentari yang semakin bersembunyi di punggung-punggung mega Ibu Kota. Bukan malu, hanya sudah waktunya rebah dan muncul di kota lain—entah di bagian bumi mana, tak tahu. Jingga yang tersisa seperti sepah pada rona-rona wajah yang merekah karena lelah berlarian berpayung terik mentari di khatulistiwa. Gersang. Dari semua ceritera yang terekam, kuceritakan kemudian. Dengan kata bersayap. Entah melantur, entah berkonsep. Dari semua ceritera yang terdengar, kukisahkan kemudian. Dengan kata bersajak. Entah memuja, entah memaki. Dan jangan pernah katakan itu hanya rangkaian kata. Sebab kutelan semua makna, jadi silakan berapresiasi.
Petang ini kubumbui sedikit syairku. Pada ujung baris terakhir, “Kurindu kau, pujanggaku. Maaf.” Itu yang kutulis. Seperempat abad aku jadi mahkluk Tuhan, kubingungkan mengapa pula aku harus memohonkan maaf pada seseorang atas rindu yang dirasa. Aneh, tapi ya sudahlah. Aku demikian pun tanpa tahu sebab. Yang tentu, aku rindu kau. Pujanggaku.
Drrrrt.. Drrrt.. Incoming call: Cah Debleng. Potretmu yang nyengir sumringah terpampang bersama no kontak yang tak pernah kuhapal sedikitpun.

“Halo, assalamu’alaikum, how do you do?” jawabku antusias.
“Wa’alaikumsalam. I am fine. Hei, sedang apa?” jawabmu spontan buat aku terkikik. Bahasa Inggrismu memang harus cepat diperbaiki. Selalu keliru menjawab sapaku. Dan aku rindu wajah polosmu ketika dengan aku menertawaimu yang kebingungan mencari jawab yang benar.
“Ya ampun mas bro, mau berapa kali diingetin, kalau disapa dengan how do you do, jawabnya how do you do juga,” kataku sambil tertawa riang. Bagiku itu hiburan menyenangkan, dan sepertinya bisa kunikmati selalu dan takkan membosankan. “Doing nothing.Baru aja dari atas kosan, bagus banget view-nya ternyata, kamu keren milihin aku kosan. Top!”
“Hm..lupa, how do you do. Hehehe. Baguslah kalau kamu suka. Nggak ngapa-ngapain hari ini?”
Nggak, capek abis pindahan kemarin. Mau rehat beberapa hari. Hei, how’s your day? Enjoy your work?”
Hm…seru. Aku banyak belajar di sini. Belajar menyelesaikan kerja yang sebelumnya aku nggak ngerti, belajar bahasa melayu sini, belajar hidup lebih sabar. Intinya, I enjoy my life in this city,” katamu ringkas. Belajar, hal yang paling kugemari darimu. Tak beda denganku, senang sekali dengan apapun yang baru terlebih menarik. Dan kini, kau adalah perantau di bumi West Borneo, tanah kelahiranku. Ragam budaya, bahasa, aktivitas, kebiasaan, gastronomi, iklim—cuaca, dan apapun semuanya baru bagimu. Tak terlalu perlu dikhawatirkan, kau sudah terbiasa dengan segala yang baru, itu mengapa kau bilang kau menikmati hidupmu di kota itu. Kuharap, Pontianak bisa membuatmu menjadi lelaki yang semakin baik dari segala aspek. Paling tidak, banyak hal yang bisa kau pelajari dan kau jadikan pengalaman di sana.
“Alhamdulillah deh kalau semua baik-baik saja. Oh ya, makasih ya udah mau datang dan ngater aku kemarin di bandara. Maaf, aku buat kamu nunggu lama dan doing shit thing yang buat kamu kesal..”
“Sama-sama, yang penting kan ketemu. Kamu nggak salah, semua itu kembali ke diri kamu sendiri.”
“Hm, ok. InsyaAllah, nggak ngulangi, amin!”
“Hm. Ya sudah, aku mau tidur. Kamu jangan begadang terus.”
“Siap, mas bro! Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam..”
***

“Kekasih kuulurkan jemari tanganmu
Dekaplah aku ke dalam helaan napas
Oh, rindu biarkanlah terbakar
Oh, cemburu biarkanlah membara
Sebab demikianlah cinta”
(Demikianlah Cinta oleh Ebiet G. Ade)

Cah Debleng
Last seen today at 5:30pm
Bertapa di Kapuas

Demikian statusmu di salah satu aplikasi messenger di smartphone yang cukup menghubungkan kita di jarak yang cukup jauh pula. Layaknya para petapa, kau membiarkan segala menjadi senyap. Menggantungkan kata dalam kalbu. Berbincang dan bercengkrama dengan Tuhanmu. Kelam tak berkabut. Namun palung itu kian mendalam. Menyesakkan dadamu—kepalamu. Berteriak pada arus sungai keruh yang membiarkan pijakan demi pijakan dan hentakan demi hentakan menapakinya. Kaunikmati resahmu sepanjang kau mau. Tanpa godaan. Tanpa campurtangan. Berdua. Intim. Hanya aku yang cemas. Oh, tidak, tak hanya aku. Perempuan yang melahirkanmu. Sanak keluargamu di kota hujan sana. Dan dia, wanita yang kaukasihi. Itu pasti.

Enggan aku mengganggu kala itu. Cukup sepekan lamanya gelisah meraja. Terlelap kemudian terjaga. Terlelap lagi. Terjaga lagi. Dan kuputuskan untuk ambil tahu. Tak kutahan. Kubiarkan napsuku mengejar suaramu di seberang pulau.

“Halo, assalamu’alaikum,” jawabmu singkat.
“Wa’alaikumsalam. Masih di tepian Kapuas—bertapa? Hahaha,” sapaku memulai pembicaraan. Berharap membuat suasana renyah dan melegakan hati.
“Masih.”  Jawabmu terstruktur. Kutanya, kaujawab. Oh. Tak ada makna lebih dari sebuah kata “masih”. Hanya saja kali ini ia sedikit membuat luas kamar kosku semakin sempit dan seakan lampu di langit-langit meredup seketika. Mencari kata aku kini. Sulit sekali. Tidak seperti biasa aku memaki hal-hal remeh. Tidak seperti biasa kumuntahkan pada bait-bait saat kukesalkan yang buruk menimpaku. Tidak seperti biasa kumohonkan dalam doa malam-malamku. Tidak seperti biasa aku hanya hening. Bukan bisu.
So, apa yang kamu dapat dari pertapaan panjangmu?”  Tanyaku seakan tak menggubris kedinginan pada jawabanmu sebelumnya.
“Nggak ada.” Sekali lagi pernyataanmu sedingin air di Danau Samosir. Membeku tidak. Hanya menusuk ke sendi dan tulang saja.
“Mana mungkin nggak ada. Sudah berhari-hari merenung nggak mungkin nggak dapat wangsit, hahaha.”
Beneran mau dengar?” tanyamu meyakinkan. Intonasi yang tentu saja membuatku ciut. Terasa sekali tekanan yang mengalir. Tidak hanya kau. Aku yang antusias menjadi ingin merundukkan niat dan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Kenapa tidak, kan aku yang nanya..” kataku ringan.
“Jangan nyesal, jangan marah, jangan nangis kalau dengar.” Duh, ini bukan petanda. Ini peringatan. Dan aku sulit diingatkan.
“Tergantung. Ah, sudahlah. Bilang saja, aku siap menyimak,” jawabku meyakinkan.
“Aku pusing..Umi minta aku pulang..atau paling nggak kerja di Jakarta atau di Bandung, sedangkan aku baru aja ditempatkan di sini. Di sini semua kerjaku terhambat. Fasilitas kantor nggak sebaik waktu di Balikpapan. Ditugaskan untuk nyelesaikan kerjaan yang bukan tanggungjawabku karena cuma aku yang bisa handle,” jelasmu lirih kudengar. Rumit tidak, tapi memang cukup membuat depresi. Sesaat aku tenang, oh, hanya soal kerinduan seorang ibu kepada anaknya yang tak sudah lama tak pulang dan semrawut pola kerja.  “Aku cuma butuh solusi. Di sini, kucari dan kudapat jawabnya,” katamu kemudian.
“Baguslah. Jangan terlalu lama diam dan berpikir, yang penting itu behave. Lalu, apa solusinya?”
Beneran mau dengar?” tanyamu kembali meyakinkan. Lagi-lagi aku merasa belum cukup siap mendengar kata demi kata yang keluar. Tapi, mungkin saja kau putuskan untuk kembali ke Jakarta atau mungkin ke Bandung, atau bahkan menetap di Bogor—di rumah yang tentu melegakan perempuan terhebatmu, pikirku.
“Iya, bilang saja.. Aku nyimak ..”
Di sini kuputuskan dua hal. Pertama, aku mati. Kedua, kuputuskan hubungan kita—hubunganku denganmu, hubunganku dengan Fitri.” Palu godam terasa membenamkanku ke dalam magma gunung merapi yang siap meletus dan membanjiri sekitar dengan lumpur panas dan abu yang berserak menyesakkan. Beruntung tadi kujawab “tergantung” saat kauminta aku untuk tak menyesal, tidak marah, dan menangis. Karena semua itu terlaksana kini. Dalam diam. Tak bersuara. Senyap! “Apapun kondisinya, itu solusinya,” katamu memperjelas dengan tegas. Pening aku, beruntung aku duduk. Di kamar yang kupilih karena kau yang menyarankan. Kupilih karena sebagian hati mulai menuruti apapun yang baik yang kautunjukkan. Tulus.
“Dari awal sudah kutegaskan, lebih baik tidak sama sekali. Aku sedang dan memang tak mau bermain-main. Dan harusnya kau tahu betul posisimu. Menetralisir perasaan itu melelahkan, mas..” Kuulang semua ucapanku saat pertama kau menggilaiku dan memang kau gila. Dan kau bawa aku gila. Tidak. Kita tidak gila. Kau tidak, akupun bukan manusia gila. Tapi bodoh itu pasti! Kalimatku terhenti. Sejuta kekesalan datang berteriak memenuhi jiwa dan bersiap murka. “Sering aku bilang, selesaikan hubunganmu dengannya. Aku nggak pernah niat untuk merampas yang bukan milikku. Kalau kamu nggak bisa, aku siap mundur—ngalah. Aku perempuan dan aku cukup paham sakit itu seperti apa! Tapi kamu selalu bilang akan mutusin dia, dan kamu minta aku untuk nggak ngalah kalau memang aku sayang kamu, berjuang. Itu katamu, mas..”  Suaraku semakin tercekik melirih perih. Sedikit meninggi pun tak mampu tertahan lendir di tenggorokan yang tersengal menahan luka. Dan kini giliran kau yang diam. Tidak bisu! Entah apa yang kaupikirkan. Malas aku menerka-terka. Murka ini memanjakanku menjadi perempuan tak berhati. “Jangan pernah kauputuskan Fitri, dia wanita yang baik sekali meski aku nggak pernah ketemu. Paling tidak, dia lebih baik dan lebih memahami kamu daripada aku. Dan dia nggak pantes kamu putuskan, pikiranmu begitu karena ada aku hubunganmu terganggu dengan keberadaanku. Kamu nggak harus bunuh diri karena kekacauan seperti ini. Beri penjelasan dan pengertian ke Umi dan mohon maklumnya kamu belum bisa pulang dan nggak bisa kerja di tempat yang Umi mau. Kerjamu bakal baik-baik aja, kamu ribet dan pusing karena hubungan yang rumit begini. Dan sekarang aku ngalah, nah semua bisa dijalani pelan-pelan. Intinya, kamu nggak perlu bunuh diri dan mutusin aku dan Fitri, cukup aku. Benahi hubungan kamu, pupuk lagi kasih sayang yang sempat mudar dengan tetap jaga komunikasi kalian, menurutku itu cukup memperbaiki semua ke-pusinganmu.” Semua mengalir. Jauh di lubuk hati, kata-kataku mengalir seperti gerimis. Ibarat angin, aku dengan senang hati menyejukkan segala yang gersang. Entah sampai kapan memunafikan diri. Tapi, inilah yang pantas kudapat. Dan itulah yang harus kulakukan. Mengalah. Lagi.
“Nggak, aku akan tetap memutuskan kalian. Menyelesaikan yang aku mulai. Aku hanya butuh fokus. Ingin memulai semua dari awal. Sendiri. Memperbaiki diri sendiri. Kamu kalau mau memakiku, silakan,” tambahmu. Mengajakku terperangah. Menggoreskan luka. Sembilu atau kalimat yang kauberikan ? Entahlah. Aku hanya bisa tertawa. Ya, tertawa. Kejutan yang mencengangkan. Ya, kau memang kejutan di tahun ini. Datang tanpa permisi. Pergi tanpa pamit.
***
Thursday, 10 October 2013. Today is my lovely and prettiest mom’s birthday.  Of course I really miss her. Kutelepon ibu seperti biasa untuk melepas rindu atau sekadar setor kabar. Tak ada seorang pun yang bisa membuatku benar-benar terdiam dengan soalan-soalan tentangmu, mas. Tapi, ibu, selalu berhasil melakukannya.
Di awal percakapan, aku terharu bahagia ibu masih diberikan kesempatan untuk menikmati dunia sebelum berakhir di sisi-Nya. Ia lemah. Sepertiku. Persis. Tapi ia ibu yang hebat. Perempuan terhebat yang selalu menginspirasiku. Bahkan ketika ia memutuskan untuk tetap memberikan yang terbaik untukku—untuk keluargaku, sementara lelaki tua yang kusapa bapak tentu saja adalah ketua keluarga kami tidak melakukan kewajibannya.
Kau, lelaki yang pernah bertamu di kediaman kami dengan serta merta kerap menasihatiku untuk tetap menghormati mereka seburuk apapun keadaan dan perilaku yang ada. Ya, beberapa bulan lalu kau menjadi tamu paling mengejutkanku. Surprised me! Kejutan menyenangkan dan paling indah kurasa. Datang sebagai lelaki bersahaja. Dan seolah seluruh keluargaku tersihir dengan segala kesederhanaan dan sisi baikmu. “Percayalah, ia bukan lelaki baik seperti yang kalian pikirkan,” celetukku dalam hati setiap sanakku mulai memujimu dan aku hanya bisa tersenyum. Terkadang terbahak bila mereka mulai berlebihan memandangmu. Benar-benar virus.
Suara lain yang kutahan tak bicara namun ternyata lepas begitu saja adalah ketika otak dan hati sedang tak ingin bekerjasama. “Dia yang kautunggu, Re. Kau sudah begitu buruk, dan kau butuh juga harus memperbaiki dirimu. Dia mampu membimbingmu. Tak perlulah kau mencari atau menanti yang lain yang lebih baik. Nikmati dan syukuri keberuntunganmu bersamanya sebagai pasangan. Lupakan yang lalu. Belajar memercayai dan mulai dari awal lagi.”
Di tengah percakapan, sontak aku mengulum kata menahan liur yang menggantung di tenggorokan. “Terakhir kudengar dia juga sakit dan sibuk sekali, bu,” kujawab singkat soalan beliau. Tentu saja aku benci obrolan seperti ini. Pembicaraan tampak monolog. Sebab ibu cerminku. Paham betul ia akan darah dagingnya ini. Dan, tak ayal jawaban bersambung tanya kemudian. Mulai emoh aku bicara. Kuputuskan untuk menyelesaikan “topikmu”. Seringkali ibu menanggapi gelisahku dan berkata,”Ya sudah, mau gimana lagi. Sabar aja. Salam buat Biru, lekas sembuh dan harus lebih take care sama kesehatannya.” Aku yang di seberang segera mengiyakan kemudian memintanya kembali tidur dan memberi salam sebelum memutuskan line telepon. Percakapan pun selesai. Tapi tidak demikian yang ada di benakku. Semakin hingar bilik demi bilik membicarakanmu. Pelan. Tapi jelas.
***
Kuketahui lewat lebih dari sekadar kabar tentangmu. Merah itu menumbuhkan rasa di saat pertemuan yang entah tak ingin kugubris lagi. Tentu saja dengannya. Sebab pesona itu tidak pada bening air yang mengalir dan membasuh kekusamanku lagi. Dan mungkin memang tak pernah ada. Ia kembali terpana pada lekat si coklat yang renyah. Dan aku hanya pahit pada ampas kopi yang terbuang. Bila ada bening di permukaan, anggap saja tuan rumah sedang kehabisan serbuk hitam yang semerbak dan mampu mencuci segala bau. Ia tunggal. Tak akan pernah terkontaminasi dengan zat apapun. Aromanya menyengat penciuman dan biarlah ia mengisi rongga-rongga yang kian lama mengecil karena memang sempit dan tak dipelihara. Karena pada suatu waktu ia akan menemani dirimu yang mungkin saja merindu. Tanpa harus memikirkan cerita yang tak pernah terungkap.

Begitu sumringah ia menatapmu tulus. Hari yang ditunggu. Selalu. Dan kini tiba. Dan sepertinya kau semakin sibuk kini. Untuk memberikan selamat pun aku enggan mengganggu waktumu. Kusimpan saja. Kudoakan saja. Segala kebaikan untuk berkah yang nyata atas pertalianmu. Tentu saja dengannya. Tuhan, terima kasih.

kamu yang cantik
kamu yang manis
kini berdua (selamat bahagia)
dulu belia lalu remaja
kini berdua (selamat bahagia)
jangan ada yang bersedih
kita nikmati malam ini
berjumpa di pesta ini
semua rasa bahagia
tua muda berpasangan oh indahnya
dan kini aku pun senang
saksikan engkau berdua
disini saat yang tepat kuucapkan (selamat bahagia)
(Selamat Bahagia oleh Superglad)
***

DUA TAHUN KEMUDIAN

Terik matahari siang ini tampak tak bersahabat untuk melepas rinduku pada kota kecilku. Bahkan sekadar menikmati lambaian malas daun-daun padi di area persawahan penduduk di desaku. Terpaksa kurungkan niat untuk merentangkan kedua tanganku di tengah pepadian membiarkan semilir angin mengelus-elus dan menelisik masuk ke celah-celah tubuhku.

Sudah sebulan aku di kampung halaman. Menemani perempuan terhebatku beristirahat demi pulihkan kesehatannya yang memburuk. Kian memburuk. Dan kuputuskan untuk menjadi mata, teliga juga kakinya untuk hidupnya. Dan itu sangat melegakan dibandingkan mendengarnya terjatuh ketika aku sedang makan dan tertawa terbahak di sudut Ibu Kota. Jiwa dan hati ini penuh untuk menjaga kasih yang ia selalu ia curahkan. Ibu, kau yang tersayang di dunia dan akhiratku.

Satu cerita pendek milik Seno Gumira lumat tertelan di kepalaku. Lantunan musik reggae sudah cukup membuatku bermalas-malasan di sabtu ini. Argh, mengapa hari libur begitu panjang. Beruntunglah aku selalu punya jadwal tetap di hari minggu untuk berkunjung dan “menculik” beberapa keponakan-keponakanku yang menggemaskan. Berkeliling di pusat kota dan menemani mereka menikmati makanan-makanan kegemaran mereka. Atau sekadar menemani mereka bermain di pelantaran sambil berteriak-teriak random sesuka hati. Atau bahkan hanya menyuapi mereka makan, memberikan susu botol lalu menidurkan mereka dengan sambil mendendangkan sebuah lullaby pengantar tidur.

Kuputuskan mencuci sedikit piring dan gelas yang sedari pagi memang tak dicuci dan mulai menumpuk. Menghabiskan waktu dengan sibuk bekerja itu adalah kebiasaan yang terasa menjadi hobi bagiku. Bahkan menjadi salah satu terapi jika jasmani sedang tidak dalam kondisi fit. Sibuk bekerja sangat manjur dibanding berobat ke dokter. Dan memutar musik sambil bekerja itu juga kebiasaan dalam keseharianku. Tembang Yesterday yang termahsyur dari group musik The Beatles kali ini melantun syahdu di pendengaranku cukup lantang. Akupun berdendang…
“Yesterday, all my troubles seemed so far away
Now it looks as though they're here to stay
Oh, I believe in yesterday
Suddenly I'm not half the man I used to be
There's a shadow hanging over me
Oh, yesterday came suddenly”
(Yesterday oleh The Beatles)

Why she had to go I don't know, she wouldn't say. I said something wrong now I long for yesterday…”suara renyah seorang lelaki tiba-tiba menimpali salah satu lagu favoritku itu. Diam dan kusimak baik-baik, itu bukan suara bapakku yang memang ia tak sedang di rumah seingatku. Lalu, siapa yang bersandung di belakangku? Kubasuh tanganku yang penuh busa sabun. Kutelusuri suara mencari tahu si empunya suara. Dan, oh… “Hei, how do you do ?” sapanya mengejutkanku. Sambil mengeringkan kedua tangan pada kemeja lusuhku yang sudah memang seperti serbet aku hanya diam. Mata tak terbelalak, tapi tak juga berniat berkedip barang sebentar. “Hei, did you hear me?” katanya lagi. Aku benar-benar tak mengeluarkan satu kata pun. Sepertinya aku bisu. “Are you ok?” tambahnya kemudian. Dan aku tetap diam tanpa kata.
“Loh, kok tamunya ndak disuguhi minuman sih, kasian udah datang jauh-jauh…” suara ibu seketika memecah pikiranku yang sibuk memutar seluruh rekaman tentangnya—tentang kami tepat sejak melihat sosok di depanku itu, tiba-tiba. “Heh, nggak usah sebegitunya dong kalau kangen, malu mbek ibu nduk. Buatkan mas-mu minum dulu, nanti baru ngobrol-ngobrol. Atau jalan-jalan sore, udah nggak panas banget kaya’nya di luar,” celoteh ibu yang membuatku semakin terbingung-bingung.
“Aku buatkan minum, baiknya kamu duduk di teras depan aja, nanti kubawa ke sana minumannya,” kataku pelan nyaris tak terdengar. Kali ini tak kutatap matanya. Tak kulumat potretnya. Kini dia yang mematung diri. “Hoi, sana ke depan, ngapain coba di dapur,” ulangku.
“Nggak ah, udah lama nggak lihat kamu ribet di dapur, aku di sini aja ya..,” jawabnya sambil melebarkan senyum yang kuidam-idamkan selama dua tahun. Terakhir kulihat senyum manisnya di lembar elektronik pada sebuah foto prewedding. Sebuah senyum indah yang tak pernah bisa kunikmati dengan hati senang.
Dari tempo itu, berarti dua tahun sudah ia menikah. Melihat senyumnya yang begitu bahagia tentulah pernikahan yang sempurna menjadi alasan tepat di baliknya. Mengingat usia pernikahannya, senyum itu tak hanya menjadi bentuk bahagia dari kasih seorang istri, mungkin saja kehadiran seorang anak menjadi anugrah yang sekarang mengisi hari-harinya. Oh, betapa bahagianya kau kini Biru.
Pikiranku berkecamuk. Pusing kurasa. Kumasak air dengan gugup. Bagaimana tidak, kedua mata lelaki itu lekat tak lepas menyoroti apapun gerakku. Dua cangkir kopi Cappucino kemasan dengan coklat granule pun tersedia. Wangi semerbak memenuhi ruang dapur yang mulai kutinggalkan menuju teras depan rumah. Biru mengikuti arah langkahku. Aku duduk. Dia pun duduk. Kuambil secangkir kopi. Kuteguk. Kupangku di pangkal kedua paha. Kuteguk lagi. Kupangku kembali. Kutimang. Kuteguk lagi. Kupangku lagi. Kuteguk lagi. Kuteguk lagi. Dan lagi… Oh, tidak kali ini, kopiku habis. Habis? Kutengok isi dalam cangkir, ternyata memang habis. “Hahaha, kamu masih sama seperti dulu ya, Re!” kata Biru sambil tertawa puas. “Haus? Nih, masih ada secangkir, minum aja…”katanya menawarkan kopi yang jelas kubuat untuknya.
“Nggak, itu kan punyamu,” tolakku tegas.
“Yaelah, ambil aja kalau mau. Maksudku, kalau masih haus. Hahaha..”
“Setelah pisah dengan kamu, aku selalu berusaha menepati janji untuk nggak akan pernah lagi ngambil yang bukan hakku. Sampai sekarang aku berhasil,” kataku datar. Menyimpan emosi terdalam yang entah sengaja atau tidak terendap dalam. Petang ini, ia muncul ke permukaan. Tidak meluap. Terlebih meletus bak Krakatau. Pembawaan tenang ini pun kuasah setelah perpisahan kami dulu. Ia yang mengajariku untuk selalu mengontrol emosi. Lebih baik menyimpan yang buruk dan menenangkan diri daripada protes dan berpikir negatif, begitu katanya. Aku cukup senang bisa menjadi pribadi yang seperti ini sekarang. Aku takjub kau yang demikian singkat kukenal mampu membuatku berpikir dan berlakon lebih baik. Terima kasih, mas. Dan oh, kau terdiam. Tatapanmu menelangsa. Ada apa? “Kok sepi, kamu kenapa? Itu kopinya diminumlah..”tegurku menyadarkannya dari lamunan.
“Kamu pasti masih benci aku ya, Re? Aku salah, maaf…” ucapnya membuatku tegang. Ditatapnya bola mataku. Seolah sedang mengemis, maaf yang disampaikan terasa menyayat sisi hati yang kemarin telah lama terkubur.
“Kamu nggak salah apa-apa Biru, justru aku yang salah dari awal. Dulu aku lancang ganggu hubungan kamu dan sempat buat kamu jauh dari Fitri. Maaf. Kupikir nggak perlulah kita bahas hal yang udah terjadi, aku selalu coba iklas kok. Mendingan kamu cerita tentang hidup kamu selama beristri Fitri. Pasti udah punya anak ya, anakmu laki-laki atau perempuan? Siapa namanya? Kok nggak dibawa ke sini sih, kan aku pengin liat Biru Junior, hahaha,” tanggapku panjang meracau bebas.
“Aku belum nikah, Re… Lebih-lebih punya anak, hahaha,” katanya buatku mengerutkan dahi. Ia hanya tersenyum tipis. “Kalau aku udah menikah belum tentu aku bisa ke sini. Dan kalau aku udah punya anak, mungkin kubawa anakku ketemu kamu, tapi sekarang nggak kan..” Aku hanya diam. Tidak coba menerka seperti biasa. Tidak bertanya pula mengapa demikian. Mungkin wajahku sudah seperti badut bodoh yang tertipu pada trik sulap kecil dari seorang ilusioner profesional. Di wajahku jelas bertanya-tanya tapi kuurungkan niat mencari tahu. Kuarahkan bola mataku pada jemari-jemari tangannya. Yang kiri, kemudian yang kanan. Oh, Tuhan, benar-benar tak ada cincin pernikahan seperti yang biasa dikenakan pasangan suami-istri. Apa benar Biru batal menikah? Berarti dia masih single? Oh Tuhan, apa yang membuatnya datang kemari dengan statusnya yang masih sendiri. Apa yang dipikirkan Biru saat ini, penasaran sekali aku dibuatnya. “Aku rindu kamu. Aku rindu kamu, Areca. Aku nggak pernah dapat kesempatan ketemu kamu di Jakarta. Dua minggu lalu kudengar kamu di Singkawang. Sekarang akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi. Senang rasanya.” Panjang ia berbicara. Aku hanya menyimak dan ber”oh..”
“Baguslah kalau kamu senang, karena aku juga senang. Senang sekali. Senang seperti terkejut saat pertama kamu datang dan kamu jadi pasanganku dua tahun lalu. Tepat di rumah ini. Benar-benar berkah rasanya waktu itu,” kataku lirih. Tidak menangis.
“Jalan yuk,” ajaknya bersemangat.
“Ke mana?”
“Kamu maunya ke mana? Ke pantai ayo, ke gunung ayo, makan juga boleh, terserah.”
“Ke pantai ajalah, nggak ribet, tapi aku salin baju dulu.”
***

“Mengapa aku mesti duduk di sini
Sedang engkau tepat di depanku
Mestinya aku berdiri , berjalan ke depanmu
Kusapa dan kunikmati wajahmu
Atau kuisyaratkan cinta
Tapi semua tak kulakukan
Kata orang cinta mesti berkorban

Mengapa dadaku mesti berguncang
Bila kusebutkan namamu
Sedang kau diciptakan bukanlah untukku
Itu pasti
Tapi aku tak mau peduli
Sebab cinta bukan mesti bersatu
Biar kucumbui bayangmu
Dan kusandarkan harapanku”
(Lagu Untuk Sebuah Nama oleh Ebiet G. Ade)

Kubenamkan pandanganku pada luas birunya laut yang kemilau. Cahaya berpendar berebutan di riak-riak air. Sesekali menggulung menjadi ombak dan menghantam bebatuan. Terhempas keras dan begitu terus-menerus. Melihat ke sekeliling batu besar yang membentuk pulau terkecil di dunia. Kulihat senyummu yang selalu mampu mengajakku terpana dan membalas senyum itu. Kulihat kau mulai meracau bercengkrama dengan Tuhan lewat bait-bait kata yang ajaib. Dengan tak luput melakukan gerak-gerak pelengkap. Bak pertunjukan panggung kau selalu memukau. Lalu, oh, kau menggendongku dan memutar-mutarkan badanmu. Terus-menerus berputar. Berputar terus sampai pusing kepalaku. Dan, oh, terhempas aku. Lututku  gemetaran. Tapi, mengapa aku masih melihat kau tertawa. Denganku?
“Kamu kenapa, Re? Kok tiba-tiba lemes sampai gemetaran gitu? Kamu nggak sehat ya, ya sudah kita pulang aja,”katamu panik.
“Kamu kenapa datang lagi, mas? Kamu tahu betul aku rindu sekali denganmu.”
“Karena aku rindu kamu. Dan aku harus ketemu kamu.”
“Kenapa harus ketemu..?”
“Aku datang karena memang kamu yang aku tuju,” jawabnya membingungkan. “Aku cuma ingin memulai kembali yang pernah kita jalani dulu, aku sayang kamu Re..” kalimat yang selalu ingin kudengar selama penantianku. Hari ini kudengar dengan jelas. Tak terhalang apapun. Dan aku tahu ini nyata. Juga tulus. Terima kasih Tuhan.
“Mungkin sekarang aku perempuan paling bahagia hari ini..”
“Dan aku lelaki yang paling bahagia hari ini, itu pasti. Makasih ya, Re. Aku lega.
“Aku yang seharusnya bilang makasih, mas. Makasih kamu buat aku banyak belajar. Belajar sabar, belajar kuat, belajar bijak, belajar tenang, belajar lebih lembut, belajar iklas. Makasih untuk semua yang sudah kamu ajarkan dan tunjukkan padaku.“  Akhirnya ucap terima kasih ini kusampaikan langsung dan sungguh senang rasanya. Aku yang tak pernah berpikir bisa seperti ini, sungguh-sungguh berkah.
“Would you marry me?”  Wow. Kalimat ini. Kalimat yang diimpikan seluruh perempuan dari pasangannya. Dan hari ini, di saksikan megahnya lukisan alam, kalimat itu ditujukan lelaki pujanggaku padaku. Terima kasih Tuhan. “Hei, kamu mau nggak menikah denganku, jangan diem gitu, aku deg-degan ini,” kata Biru gugup. Diperhatikannya aku lekat-lekat. Cemas ia berharap. Dekat dari wajahku. Ia sangat menunggu. Bahkan lebih terlihat khawatir penantiannya. Tapi kesabarannya tak seperti sabar yang kujaga selama dua tahun. “Hei…aku nunggu jawaban kamu loh, Re…” katanya mendesak tanda semakin tak sabar. Aku yang diajak bicara hanya tersenyum. “Jangan hanya senyum, yang aku butuh sekarang jawabanmu, jawablah..” rengeknya padaku. Dan aku hanya semakin melebarkan senyuman. Sedikit tertawa kecil. “Aku nggak lagi ngelawak loh, aku ngelamar kamu ini sekarang, kamu mau nggak menikah denganku, Areca? Dijawab.”
“Hahaha, kamu lucu banget sih, mas. Nggak kuat aku nahan ketawa. Maksa banget minta dijawab,” jawabku meledek.
“Astaga, malah ketawa. Oke aku ulang, Areca maukah kamu menikah denganku,” ulangnya sambil memasang senyum manis motif merayuku. Senyum yang, ah… benar-benar manis. Lesung di pipinya membuatku entah mengapa selalu semakin senang untuk menikmati parasnya. Manis!
“Makasih ya, mas, aku benar-benar seneng hari ini. Kamu datang tiba-tiba ke rumah, dan kita ke pantai lagi. Dan kamu ngelamar aku. Hal yang aku butuh semenjak aku pernah jadi pasanganmu dulu. Sayang, kamu nggak sesayang itu sama aku dulu. Makasih sudah berpikir aku perempuan yang pantas kamu nikahi. Aku senang sekali. Tapi, maaf, aku nggak berniat menikah sedikitpun dan dengan siapapun. Bahkan denganmu, lelaki yang sejak bertemu selalu aku jaga rasa ini buat kamu. Sejak kamu putuskan untuk menyelesaikan hubungan kita, aku tekadkan untuk nggak akan menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Termasuk kamu. Aku lebih baik sendiri. Aku nikmat sendiri. Karena upayaku sudah cukup keras menetralisir rasa dan keadaan. Maaf, Biru.”
Seluruh rasa, seluruh pikiran sudah terucap. Habis. Dan berakhir. Tinggal doa yang akan terus kumohonkan pada-Nya untukmu, untuk kebahagiaanmu. Bahagia dengan jalan yang berbeda denganku. Dan jangan larang aku untuk tidak melakukannya. Sebab aku tulus lagi iklas. Terima kasih Biru. Berkatmu aku mengenal-Nya. Dan mampu membuatku untuk terus berpikir aku hanya manusia yang dilahirkan untuk mati karena Dia. Bukan karena dan untuk lelaki.

SELESAI