October 05, 2013

Perempuan Ikan*


Menyelam. Tenggelam.
Mengayuh lalu terjatuh.
Di laut dalam jengap mencari udara.
Sekarat rupanya.

Di mana pelangi yang biasa menjenguk ?
Membentangkan ganjil warnanya pada asin airku.

Hijau.
Jingga.
Merah.
Kuning.
Lalu apa lagi?
Raib.

Sirip ini patah juga lelah.
Esok lusa mati aku mungkin.
Jadi terumbu karang, ijinkan aku menitip buih.
Ratusan bahkan ribuan !

Mata hatiku berjiwa Srikandi.
Mata hatiku berjiwa Gendari.
Mata hati mata jiwa, kutitipkan pada samudra.



20 Juni 2013
*Puisi keempat yang  dimuat dalam #AntologiPuisiDeruMerapi

Esok, Lusa*


Temani aku mari duduk sini, kasih.
Ladeni rinduku yang tak letih merekah.
Firasat banyak esok kita bahagia.
Di dunia terpisah.

Temani aku ayo bernyanyi sini, sayang.
Manjakan binalku yang tak lelah merengek.
Petanda banyak lusa kita bergembira.
Di dunia terpisah.

Ijinkan aku lobak pada waktu dan cerita.
Harap kenangan terekam menawan.


19 Juni 2013
*Puisi ketiga yang dimuat dalam #AntologiPuisiDeruMerapi

Lagu Hati*

Zing tak kenal bing.
Gong kini hanya jong yang mengerdil.
Pom-pom itu bukan ding dong.
Lalu di mana wong dan kong?
Mungkin mati di dalam Sang!

Wing berkasih nong.
Lala riang bukan du du du.
Hilang sing tak menjelma ring.
Lalu siapa kau dug-dug ?
Mungkin mati di dalam Yang!

19 Juni 2013
*Puisi kedua yang dimuat dalam #AntologiPuisiDeruMerapi